Wakil Ketua MPR, mendorong pemerintah daerah Bali untuk serius membenahi persoalan sampah agar tidak memicu banjir di masa mendatang.

Ia menegaskan bahwa sampah menjadi salah satu faktor utama yang membuat saluran air tersumbat dan menyebabkan genangan di berbagai titik. Menurutnya, persoalan ini harus diatasi bersama demi menjaga citra Bali sebagai destinasi wisata dunia. Berikut ini Politik Ciki akan memberikan informasi dan penjelasan terkait Waka MPR soroti masalah sampah yang ada di Bali.
Waka MPR Soroti Persoalan Sampah di Bali
Wakil Ketua MPR menilai sampah masih menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi pemerintah daerah Bali. Meski sudah ada berbagai program pengelolaan sampah, kenyataannya masih banyak timbunan sampah yang mengganggu aliran air, terutama di kawasan perkotaan. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan karena bisa memperparah risiko banjir saat musim hujan tiba.
Ia menilai citra Bali sebagai salah satu destinasi wisata internasional akan terancam bila masalah sampah tidak segera ditangani. Ribuan wisatawan berdatangan setiap tahun untuk menikmati keindahan alam, budaya, dan seni Bali. Namun, jika kota-kota di Bali kerap dilanda banjir akibat tumpukan sampah, tentu akan menurunkan minat wisatawan dan mencederai reputasi daerah.
Selain berdampak pada pariwisata, masalah sampah juga menyangkut kenyamanan dan kesehatan masyarakat lokal. Sampah plastik yang menyumbat drainase tidak hanya menyebabkan banjir, tetapi juga memunculkan risiko penyakit akibat genangan air kotor. Hal ini menjadi peringatan penting bagi semua pihak agar lebih serius memperhatikan pengelolaan sampah di Bali.
Pengelolaan Sampah Masih Belum Optimal
Sejumlah kebijakan sebenarnya telah ditempuh pemerintah daerah Bali, seperti gerakan pengurangan penggunaan kantong plastik sekali pakai dan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Namun, penerapannya dinilai belum maksimal karena masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Edukasi dan pengawasan dinilai masih lemah.
Di lapangan, tumpukan sampah sering terlihat di sungai maupun saluran air yang seharusnya berfungsi sebagai alur pembuangan. Kondisi ini semakin berat ketika curah hujan tinggi, karena aliran air terhambat dan akhirnya meluap ke jalan maupun kawasan perumahan. Situasi ini bukan hanya terjadi di wilayah perkotaan, tetapi juga di daerah wisata populer.
Wakil Ketua MPR menekankan bahwa perlu adanya strategi komprehensif dalam pengelolaan sampah. Tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas, tetapi juga memastikan adanya perubahan perilaku masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi kunci utama agar pengelolaan sampah dapat berjalan optimal.
Baca Juga: Komisi III Percepat Finalisasi Draf Baru RUU Perampasan Aset
Ancaman Banjir dan Dampaknya pada Pariwisata

Banjir yang melanda kawasan perkotaan di Bali bukan sekadar masalah infrastruktur, tetapi juga ancaman serius bagi pariwisata. Banyak wisatawan mengeluhkan terganggunya aktivitas liburan ketika hujan deras menyebabkan jalan tergenang air. Hal ini menjadi pengalaman buruk yang bisa tersebar luas di media sosial maupun ulasan wisata.
Jika kondisi banjir kerap terjadi, ada kemungkinan wisatawan akan mempertimbangkan destinasi lain yang lebih nyaman. Dampaknya tentu besar terhadap perekonomian Bali yang selama ini sangat bergantung pada sektor pariwisata. Kehilangan kepercayaan wisatawan berarti juga kehilangan sumber pendapatan utama daerah.
Bali yang dikenal sebagai Pulau Dewata harus menjaga kelestarian dan kebersihannya. Persoalan sampah tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena menyangkut keberlanjutan pariwisata. Bila tidak segera diatasi, Bali berisiko kehilangan daya tarik yang selama ini menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia.
Ajakan Bersama untuk Menjaga Lingkungan
Wakil Ketua MPR mengajak seluruh lapisan masyarakat Bali untuk ikut peduli dalam penanganan sampah. Menurutnya, masalah ini tidak bisa ditangani hanya oleh pemerintah, tetapi memerlukan partisipasi aktif dari warga. Masyarakat bisa memulai langkah sederhana dengan tidak membuang sampah sembarangan dan lebih disiplin dalam memilah sampah.
Ia juga mendorong pelaku usaha di sektor pariwisata untuk terlibat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Hotel, restoran, hingga pelaku wisata lokal bisa mengambil peran dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menyediakan fasilitas pengelolaan sampah. Kolaborasi lintas sektor akan memperkuat upaya menjaga Bali tetap indah dan bebas banjir.
Selain itu, edukasi sejak dini juga dianggap penting agar generasi muda memiliki kesadaran tinggi terhadap lingkungan. Program di sekolah maupun komunitas bisa menanamkan nilai-nilai kepedulian, sehingga terbentuk kebiasaan yang baik. Dengan begitu, Bali tidak hanya bebas banjir, tetapi juga menjadi contoh pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Buat kalian yang ingin mendapatkan informasi tentang politik tentunya terupdate dan terpecaya hanya di Politik Ciki.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari antaranews.com
- Gambar Kedua dari detik.com