Prabowo Subianto tancap gas mengumpulkan menteri, menegaskan sampah harus diolah menjadi sumber energi strategis bagi ketahanan nasional.
Prabowo Subianto mengumpulkan menteri Kabinet Merah Putih di Hambalang, Bogor, untuk membahas percepatan program waste to energy. Pertemuan ini menegaskan komitmen menjadikan sampah sebagai sumber energi terbarukan, sekaligus mengatasi penumpukan sampah dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Simak beragam informasi menarik lainnya tentang politik di Indonesia yang terbaru dan terviral cuman hanya ada di seputaran Politik Ciki.
Rapat Top Level di Hambalang
Rapat yang dipimpin Prabowo Subianto berlangsung di Hambalang pada 25 Maret 2026, dihadiri menteri ESDM, Investasi, dan lingkungan. Presiden menekankan percepatan pengolahan sampah menjadi energi di berbagai daerah, agar limbah yang terabaikan dapat diubah menjadi nilai tambah.
Prabowo menginstruksikan agar daerah‑daerah yang selama ini terhambat progresnya segera didorong. Tujuannya adalah mempercepat proses lelang, perizinan, dan pembangunan infrastruktur waste to energy. Arahan ini disampaikan langsung kepada Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, sebagai penanggung jawab utama.
Desakan percepatan ini menandai pergantian pola dari diskusi kebijakan ke eksekusi proyek. Menteri diinstruksikan menyusun langkah konkret dalam hitungan hari, bukan minggu. Konsistensi antara arahan Presiden dan aksi di lapangan menjadi kunci bagi keberlanjutan program ini.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Target 34 Titik Dan 1.000 Ton Sampah
Pemerintah sebelumnya sudah merancang proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di 34 titik di 34 kabupaten/kota. Proyek ini ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari menjadi energi listrik. Jumlah ini diharapkan bisa mengurangi tekanan pada TPA dan mengurangi risiko banjir dari tumpukan sampah.
Di beberapa kota, konsep Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sudah berjalan, seperti di Surabaya dan Surakarta. Kedua kota ini menjadi contoh bahwa sampah bisa diolah secara termal dan menghasilkan listrik yang terhubung ke jaringan PLN. Program nasional yang dipercepat akan meniru dan memperluas model serupa ke kota‑kota lain.
Dengan pendekatan hilirisasi, pemerintah ingin menjadikan sampah sebagai sumber energi yang terintegrasi dengan TPS 3R dan TPST RDF. Targetnya, sampah tidak hanya dibakar, tetapi dipilah, dimanfaatkan kembali, lalu diolah menjadi energi, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Baca Juga: MPR Bongkar Ancaman Besar Geopolitik, Fiskal dan Pangan Terancam!
Dampak Lingkungan Dan Ekonomi
Program pengolahan sampah menjadi energi memiliki dua manfaat besar, mengurangi limbah dan menyediakan energi terbarukan. Sampah padat yang biasanya menumpuk di TPA dapat dikurangi volume dan dampaknya terhadap tanah dan air tanah. Emisi dari proses termal juga bisa ditekan jika teknologi yang digunakan sudah memenuhi standar lingkungan.
Di sisi ekonomi, pembangunan fasilitas PSEL dan PLTSa membuka peluang investasi dan lapangan kerja. Proyek ini menarik investor domestik maupun asing untuk mengembangkan teknologi pengolahan sampah dan pembangkitan listrik. Selain itu, daerah bisa memperoleh penerimaan baru dari penjualan energi dan biaya layanan pengelolaan sampah.
Namun, beberapa pakar mengingatkan bahwa keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada kesiapan teknis dan perubahan perilaku masyarakat. Masyarakat perlu membiasakan diri memilah sampah dan tidak membuang sembarangan. Tanpa dukungan dan partisipasi masyarakat, bahkan teknologi canggih sekalipun bisa gagal mencapai target pengurangan sampah.
Roadmap Energi Dan Kebijakan Strategis
Pemerintah menetapkan kuota pembangkit listrik tenaga sampah dalam RUPTL PLN 2025–2034 dengan target kapasitas sekitar 452,7 MW. Investasinya diperkirakan mencapai 2,72 miliar dolar AS, menunjukkan pentingnya peran energi dari sampah dalam sistem kelistrikan nasional.
Program ini juga didukung oleh Peraturan Presiden tentang pengelolaan sampah lintas wilayah, yang menargetkan 100 persen sampah terkelola pada 2029. Dalam regulasi ini, nuansa ekonomi hijau dan pengelolaan berkelanjutan menjadi orientasi utama. Fasilitas PSEL diharapkan menjadi tulang punggung pengelolaan sampah modern.
Dengan rapat percepatan yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto, program waste to energy berpotensi masuk tahap eksekusi. Ke depan, sampah bisa menjadi bagian sistem energi nasional yang lebih bersih dan berkelanjutan, sekaligus mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang ekonomi.
Pantau selalu berita politik terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di Politik Ciki agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari jogja.antaranews.com
- Gambar Kedua dari ecadin.org