Rp 200 Juta Dana BUMDes di Cianjur Raib, Diduga Dipakai “Main Saham”

Rp 200 Juta Dana BUMDes di Cianjur Raib, Diduga Dipakai “Main Saham”

Dugaan hilangnya Rp 200 juta dana BUMDes Benjot di Cianjur akibat investasi saham pribadi oleh pengurus telah mengguncang kepercayaan masyarakat.

Rp 200 Juta Dana BUMDes di Cianjur Raib, Diduga Dipakai Main Saham

Pengakuan dari ketua BUMDes bahwa mayoritas dana diputar untuk saham, dan angka saldo yang sangat kecil tersisa di rekening menunjukkan adanya masalah serius dalam tata kelola dan akuntabilitas.

Keterlibatan warga melalui audiensi publik dan jaminan pengembalian dana dengan sertifikat tanah menjadi langkah awal perbaikan. Mari kita ulas lebih dalam di .

Kontroversi Dana BUMDes di Desa Benjot

Kegemparan melanda Desa Benjot di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur. Setelah warga menyatakan bahwa dana BUMDes senilai Rp 204 juta raib.

Angka ini mengejutkan karena sebagian besar dari dana tersebut diduga telah digunakan untuk investasi pribadi dalam bentuk saham oleh pengurus BUMDes.

Kejadian ini memicu audiensi panas antara masyarakat, perangkat desa, dan tokoh lokal, karena warga merasa telah dikhianati dana yang seharusnya dikelola untuk kepentingan desa justru “diputar” oleh pengurus tanpa transparansi penuh.

Temuan Audit dan Audiensi Warga

Memanasnya situasi bermula saat audit internal dilakukan di BUMDes Benjot. Warga yang meminta pertanggunjawaban langsung memeriksa rekening koran BUMDes dan menemukan fakta mengejutkan saldo yang tersisa hanya Rp 272 ribu dari jumlah awal lebih dari 200 juta.

Temuan ini menimbulkan kemarahan publik karena jauh dari harapan penggunaan dana untuk proyek pemberdayaan lokal. Dalam audiensi bersama Camat Cugenang, Kapolsek, Danramil, dan Kepala Desa, pengurus BUMDes akhirnya menjelaskan bahwa sebagian besar dana telah diinvestasikan ke saham.

Ketegangan meningkat ketika pengurus mengakui bahwa komitmen awal untuk membangun usaha BUMDes. Seperti kandang ayam, ternyata hanya terealisasi sebagian.

Investasi saham yang dilakukan oleh ketua BUMDes dianggap warga sebagai langkah yang jauh dari tanggung jawab pengelolaan dana desa, terutama karena investasi pribadi semacam itu tidak lazim dilakukan dengan dana publik desa tanpa persetujuan warga.

Baca Juga: Wakil Rakyat Tekankan Diplomasi Seimbang Demi Kepentingan Nasional

Pengakuan Ketua BUMDes

Pengakuan Ketua BUMDes

Ketua BUMDes Benjot, Fesi Syarchosi, akhirnya angkat bicara di hadapan warga. Dalam forum audiensi, Fesi mengakui bahwa sekitar Rp 180 juta dana BUMDes telah ia gunakan untuk membeli saham atas nama pribadinya.

Selain itu, ia menyebutkan sebagian kecil dana juga digunakan untuk pembangunan kandang ayam. Meskipun pembangunan itu baru rampung sekitar 60 persen.

Ia mengaku bersalah dan menyatakan bahwa pemahamannya tentang aturan BUMDes masih kurang. Menganggap ini sebagai pelajaran penting agar kelak bisa bekerja lebih bijak.

Dalam pengakuannya, Fesi menyampaikan penyesalannya dan bersedia mengembalikan dana tersebut. Ia bahkan menawarkan sertifikat tanah pribadinya sebagai jaminan agar dana yang dipergunakan untuk investasi bisa dikembalikan. Kesepakatan awal dalam audiensi menetapkan tenggat pengembalian dana hingga tanggal 20 Desember 2025.

Tuntutan Transparansi dan Akuntabilitas

Warga Desa Benjot, melalui perwakilan seperti Bayu Maulana. Menuntut transparansi penuh dan perhitungan yang jelas dari pengurus BUMDes.

Mereka menegaskan bahwa menurut regulasi, dana BUMDes tidak boleh digunakan langsung untuk investasi saham pribadi tanpa keputusan bersama atau persetujuan forum desa.

Mereka menilai bahwa tindakan tersebut melenceng dari tujuan awal pembentukan BUMDes. Yaitu pemberdayaan ekonomi masyarakat desa, bukan untuk digunakan sebagai kendaraan investasi individu.

Dalam audiensi, perangkat desa dan tokoh masyarakat menekan adanya akuntabilitas. Agar para pengurus dapat menjelaskan secara rinci penggunaan anggaran BUMDes ke mana uangnya mengalir, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana dana tersebut akan dikembalikan.

Warga juga menyoroti minimnya partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan besar terkait pengelolaan dana desa, yang seharusnya menjadi milik kolektif.

Buat kalian yang ingin mendapatkan analisis politik yang tajam dan update terkini, kalian bisa kunjungi Politik Ciki yang dimana akan selalu menyajikan berita dan opini terpercaya seputar dinamika politik Indonesia dan dunia.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Utama dari megapolitan.kompas.com
  • Gambar Kedua dari www.cna.id